Marah untuk Pendidikan Anak ????

9 02 2009

Marah itu Mudah… Tapi marah kepada orang yg benar, dengan waktu yang benar, dengan cara yang benar, dengan dosis yang benar, tidaklah mudah !!!

(Aristoteles)

 

Saya baru saja selesai membaca buku Ayah Edi, “37 kebiasaan orang tua yang memberikan dampak prilaku buruk anak “. Ia adalah seorang pendidik yang mempunyai visi bahwa Indonesia harus dibangun dengan memperkuat sistem pendidikan keluarga. Menurut saya, It is inspiring, applicable  untuk diterapkan dan menjadi panduan yang bagus untuk orang tua, terutama orang tua muda seperti saya. Oleh sebab itu saya mencoba mengkombinasikan buah pikiran ayah Edi dengan filosofi aristoteles diatas.

 

 

1. Background/Filosofi marah

 Tujuan marah adalah untuk mendidik anak, bukan untuk melampiaskan kekesalan. Kita juga harus ingat bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sifatnya berkesinambungan dan berkelanjutan. Janganlah kita berharap, sekali marah dan kemudian anak akan berubah. Karena pendidikan anak bukanlah sesuatu yang instan !!!

 

2. Objek Marah

Yang perlu dimarahi bukan lah pribadi sang anak, tetapi tingkah laku buruknya. Tingkah laku adalah segala sesuatu yang menjadi kebiasaan anak atau yang sering ia lakukan secara terus menerus.  Bicara mengenai tingkah laku bagaikan dua sisi mata uang. Ada tingkah laku baik dan ada tingkah laku buruk. Menurut pengamatan saya, rata -rata orang tua Indonesia memberikan feedback hanya  atas tingkah laku buruk anak  dengan me-marahinya. Tetapi, sebenarnya yang jauh lebih penting adalah dengan memberikan feedback atas tingkah laku baik/positif anak  dengan memberikan appresiasi berupa pujian.

 

3. Waktu marah yang benar

Waktu marah yang benar adalah pada saat kita tidak emosi sehingga lakukanlah kemarahan hanya bila emosi kita sudah stabil. Stabilkan emosi dengan diam/hindari untuk tidak berkata-kata, atau mengurung diri didalam kamar beberapa saat. Setelah itu barulah lakukan dialog dengan anak dengan pikiran yang jernih dan emosi yang stabil.

 

4. Cara marah yang benar

  – Berteriak versus Tegas

Berteriak dengan suara menggelegar untuk memarahi anak bukanlah cara yang benar. Biasanya orang tua yang marah dengan berteriak adalah orang tua yg sedang emosi. Oleh sebab itu stabilkan dahulu emosi, setelah itu barulah berdialog dengan suara tegas. Tegas berarti tidak berteriak. 

 

    – Hukuman fisik versus hukuman dengan mengurangi kesukaannya

Marah dengan memberikan hukuman fisik seperti mencubit dan memukul bukanlah cara marah yang benar. Marah yang benar, jikapun ingin memberikan hukuman adalah dengan mengurangi aktivitas yang disukainya seperti mengurangi jam main bola, mengurangi nonton film kesukaannya dsb.

 

5. Dosis marah yang benar

    Menurut ayah Edi, janganlah  marah secara berlebihan karena hal ini akan menimbulkan penyesalan bagi orang tua. Sehingga orang tua akan lebih permisif sebagai kompensasi atas kemarahannya yang berlebihan. Hal ini akan dicatat oleh anak dan Ia akan mengulanginya lagi dimasa yang akan datang. Jadi marah dengan dosis yang benar adalah  kemarahan yang tidak akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari.

 

Semoga bermanfaat.

 

Sumber: Ayah Edi, 37 kebiasaan orang tua yang memberikan dampak prilaku buruk anak

 

 

 


Actions

Information

2 responses

10 02 2009
Muhammad Noer

Setuju Pak Sony, marah memang (tidak) mudah. Karenanya setiap orangtua perlu belajar agar marahnya menjadi efektif, tepat sasaran dan bermanfaat.

27 04 2009
mas ridwan

ngontrolnya ini yang kadang2 sulit…
apalagi sama anak orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: